HOME
ABOUT
INFORMASI PPDB
PROFILE
ALUMNI
GALLERY
CAREER
EVENT
ARTICLE
DOWNLOAD

PPDB 2020/2021


DAFTAR UNIT :









Komentar Terbaru :


IP Address : 3.94.202.172
Pengunjung : 509.471


Newsflash :
PROFICIAT KEPADA SD TARAKANITA 3 JAKARTA ATAS PRESTASINYA MERAIH PIAGAM BINTANG SATU KEAMANAN PANGAN UNTUK KANTIN SEKOLAH DARI BADAN POM REPUBLIK INDONESIA             |             PROFICIAT KEPADA SD DAN SMP SINT CAROLOS BENGKULU ATAS PRESTASINYA MERAIH PIAGAM BINTANG SATU KEAMANAN PANGAN UNTUK KANTIN SEKOLAH DARI BADAN POM REPUBLIK INDONESIA             |             PROFICIAT ATAS TERSELENGGARANYA KONFERENSI NASIONAL GURU SMP, SMA, SMK PENGAMPU UJUAN NASIONAL YG DISELENGGARAKAN DI TDC 2 SURABAYA, 26-28 NOVEMBER 2019             |                         |             PROFICIAT KEPADA SD DAN SMP SINT CAROLOS BENGKULU, MERAIH PIAGAM BINTANG SATU KEAMANAN PANGAN UNTUK KANTIN SEKOLAH DARI BADAN POM REPUBLIK INDONESIA.             |                         |             PROFICIAT KEPADA TARAKANITA WILAYAH TANGERANG YANG TELAH MERAIH JUARA UMUM DALAM OSTARNAS IV DI YOGYAKARTA 13-15 NOVEMBER 2019.             |                         |             PROFICIAT KPD SMA TARAKANITA 2 JKT YG TELAH MERAIH JUARA 1 LOMBA FILM PENDEK, JUARA 1 LOMBA DESAIN POSTER TINGKAT KOTA JAKARTA UTARA (AGUSTUS 2019)             |            

Artikel :



Media Sosial dan Mendacity


Rabu; 20 December 2017 [admin, SMP STELLA DUCE 1] - Artikel Umum


Kalau dirasa-rasakan, media sosial dekat sekali dengan mendacity. Kosakata bahasa Inggris mendacity berasal dari kosakata Latin mendacitas, artinya kebohongan. Seseorang yang terus-menerus berbohong disebut memiliki karakter mendacity, karakter pembohong. Frustrasi kita menghadapi pembohong patologis seperti itu.

Kini, seiring kian akrabnya orang dengan media sosial, makin diakrabi istilah hoax alias kabar bohong. Banyak kosakata baru seakan melekat dengan media sosial: hoax, hater, buzzer, follower, crowd, dan lain-lain.

Mungkin karena sifat medianya, digerakkan saraf jari-jari yang lama-lama terlatih, kemampuan jari-jari mereproduksi dan mengotak-atik informasi dan image akhirnya melebihi kecepatan kerja otak. Secara sederhana, mekanisme tubuh seperti itu disebut refleks. Orang menyerap dan menanggapi informasi secepat gerak refleks. Cepet bingitz, istilah remaja dan orang-orang berumur yang kekanak-kanakan. Tak perlu dipikir.

Ditambah kualitas literasi yang rendah dengan minat baca nomor dua terendah di dunia, jadilah otak yang tak terlatih dengan mudah diperdaya kebohongan. Otak yang terus diperdaya kebohongan akhirnya menyesuaikan diri, mengembangkan kesanggupan dirinya sendiri untuk tak kalah memproduksi kebohongan.

Bersemai kebohongan-kebohongan, dari kecil sampai besar, dari main-main seperti humor tak lucu di WhatsApp sampai yang serius dan berpotensi memecah belah persaudaraan bangsa. Telah lahir kelas sosial pembohong: the mendacity class. Kelas sosial ini terdiri atas penderita patologi sosial sebagai pembohong tadi ataupun mereka yang pantas dikasihani, mayoritas yang dikarenakan kebodohan dan tingkat pendidikan yang rendah menjadi korban pembodohan. Pembohong besar mengangkat diri sebagai pemimpin besar, bicara berapi-api tentang hakikat langit seolah bicara kasunyatan, menyangkal segalanya, termasuk bahwa Bumi bulat. Ada juga yang jadi melankolis berlebihan. Oh, kenapa jadi begini..

Tidak semuanya salah manusia. Teknologi selalu membawa manusia pada fase evolusi lanjut. Revolusi digital telah membawa manusia pada fase pasca kasunyatan, post-truth. Yang sebelumnya diyakini banyak orang sebagai kebenaran tengah dibongkar, sebagaimana otoritas kepakaran, expertise, kini diolok-olok dan dianggap tidak ada. The death of expertise, Mas, kata Mbak Sarie mengutip ahli di Amerika. Amatir-profesional sama saja, pintar-bodoh sami mawon. Dari kerabat ataupun teman-teman yang punya anak baru tahu bahwa sekarang ini tidak ada anak sekolah tidak naik kelas seperti zaman dulu. Semua naik, semua lulus.

Kecepatan informasi berlangsung bersamaan dengan ledakan jumlah penduduk dan kemudahan mobilisasi manusia. Tempat-tempat sepi dan alam perawan diburu para fundamentalis selfie. Tahun-tahun terakhir ini, selain ledakan jumlah penduduk, juga ditandai ledakan pelancong. Libur beberapa hari, tempat-tempat tertentu dibanjiri fundamentalis liburan. Bali, Yogya, Bandung, menyusul kota-kota lain, seperti Cirebon, di ambang krisis air tanah dikarenakan perkembangan hotel-hotel murah untuk mengakomodasi turisme massal. Belum krisis lingkungan yang lain, termasuk sampah.

Bagaimana dengan perkembangan media? Dulu populer istilah pers sebagai anjing penjaga, the press is a watchdog. Kini media-media atau medium menurut pakar media Marshall McLuhan menentukan isi-telah berubah. Isi atau konten, menurut McLuhan, hanyalah “sekerat daging yang dibawa pencuri (dalam hal ini maksudnya medium tadi) untuk mengalihkan perhatian anjing penjaga di otak”. Watchdog baginya bukan anjing penjaga yang menggonggongi lembaga pemerintah, legislatif, atau hukum, melainkan anjing penjaga sebagai penjaga kesadaran otak kita. Sesuatu yang ada dalam diri kita sendiri.

Media digital membuat yang nyata dan tidak nyata kabur batasnya. Kita harus terus-menerus memelihara kewaspadaan anjing penjaga di otak kita, the watchdog of the mind. Kesadaran harus dipelihara. Eling. Jangan mau otak kita dikadali kebohongan.

https://widiyanto.com/media-sosial-dan-mendacity/







Komentar - komentar untuk artikel ini :
Belum ada komentar pada artikel ini..


Silahkan isi komentar pada form di bawah ini.
Nama :
Alamat Email :
Komentar :

Tuliskan Kode berikut :



Artikel Lainnya :